Mandi Sering Diintip, Sang Ibu Guru Mati Secara Tragis di Tangan Bekas Muridnya Diperkosa Lalu Mayatnya Ditaruh di Ember


Inilah kasus kematian dan pembunuhan yang tengah jadi sorotan tajam publik Tanah Air.
Alih-alih membalas budi jasa sang guru yang telah memberikannya ilmu, seorang mantan murid justru dengan teganya memperkosa dan kemudian membunuh eks guru SD-nya.
Ya, sebelum menghabisi nyawa Efriza Yuniar alias Yuyun (50) di kediamannya di jalur V Desa Marga Rahayu, Kecamatan Marga Telang, Kabupaten Banyuasin, pada Rabu (8/7/2020), tersangka AR (18) lebih dulu ingin menyalurkan nafsu bejatnya pada sang guru.
Korban yang tengah melakukan aktivitas mandi bahkan sempat diintip oleh pelaku, sebelum akhirnya dicekik oleh pelaku dengan menggunakan kedua tangannya.
Ketika korban pingsan, tersangka pun langsung melancarkan aksi bejatnya. Di tengah aksinya, korban tersadar lalu berontak dan berteriak meminta tolong. Di sinilah, pembunuhan itu terjadi.
Tersangka yang panik langsung menyumpal mulut korban dengan menggunakan ikat rambut yang terbuat dari kain. Selanjutnya, pelaku mengikat leher korban dengan menggunakan sabuk warna coklat dan charger ponsel, serta mengikat tangan korban dengan menggunakan tali rafia.
Setelah memastikan bahwa korban meninggal dunia, jasad korban kemudian dimasukkan ke dalam ember warna hijau, lalu ditutup dengan sprei dan diikat kembali menggunakan tali rafia.
Dalam kasus ini, kepolisian memastikan bahwa motif pelaku dikarenakan ingin menyalurkan nafsunya setelah menonton film dewasa.
Pelaku diketahui memiliki kebiasaan menonton film porno di ponselnya. Untuk menyalurkan hasratnya, pelaku yang merupakan tetangga korban ini kerap mendatangi rumah korban, untuk mengintipnya ketika mandi.
Hingga puncaknya, pelaku masuk ke rumah korban dan ingin memperkosanya.
Sela (26), selaku keponakan korban mengaku tidak terima dengan perbuatan pelaku, hingga menuntut hukuman mati bagi pelaku.
“Pembunuh itu harus dihukum mati. Perbuatannya benar-benar sudah sangat keterlaluan. Tante saya itu gurunya seharusnya dihormati. Tapi malah diperlakukan kejam begitu. Kami ingin keadilan,” tegas dia dengan suara kesal seraya berurai air mata, dikutip dari TribunJatim.com.