Pasien Ngebet 8erhu8ungan Badan di Ranjang IGD Rumah Sakit Padahal Infus Masih Terpasang


Heboh, Video Viral Pasien Ngebet Berhubungan Badan di Ranjang IGD Rumah Sakit Padahal Infus Masih Terpasang

Inilah salah satu berita terpopuler Tribun-timur.com pekan ini.

Seorang pria pasien rumah sakit nekat bersetubuh di ranjang instalasi gawat darurat (IGD) rumah sakit.

Videonya direkam dan kemudian menjadi viral.

Pihak rumah sakit pun memberi klarifikasi.

Adegan terlarang itu langsung diburu warga dunia maya (dumay).

Video viral dua sejoli sedang melakukan tindakan mesum dan tak sepantasnya di balik tirai rumah sakit yang berada di ruang Instalasi Gawat Darurat ( IGD ) belum lama ini beredar di media sosial.

Apesnya, aksi tak senonoh pasangan itu direkam oleh orang lain yang juga ada di ruang tersebut secara candid dan diam-diam.

Padahal diketahui infus masih terpasang di tangan pasangan pria yang terlihat sedang sakit dan mendapat perawatan di IGD rumah sakit.
Dari video viral yang beredar media sosial tersebut, tampak sepasang remaja itu berhubungan intim di ranjang dan tempat tidur pasien.

Dari rekaman itu, terlihat pula pelaku laki-laki masih menggunakan infus namun melakukan tindakan sesonoh itu.

Di detik terakhir, pelaku wanita tampak sempat menoleh ke arah kamera.

Melihat hal tersebut, perekam video viral langsung menarik kameranya.


Dari keterangan lokasi video viral yang beredar tertulis ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit Sanjiwan Gianyar, Bali.

Terkait dugaan lokasi rumah sakit tersebut, pihak RS Sanjiwan Gianyar pun akhirnya buka suara.

Secara tegas, pihaknya membantah bahwa video asusila yang beredar tersebut terjadi di RS Sanjiwan Gianyar.

Bantahan tersebut ditegaskan oleh Dirut RSUD Sanjiwani Gianyar, Ia Komang Upeksa dalam keterangannya.

"Melihat dari tirainya saja, sudah bisa dipastikan bukan RSUD Sanjiwani, kami tidak ada menggunakan yang seperti itu. Ini bisa diperiksa langsung ke rumah sakit," ujar Ida, Jumat (26/4/2019).

Diketahui, video viral yang beredar tersebut menunjukkan latar belakang sebuah horden atau tirai berwarna biru dengan lis putih, yang menjadi sekat antar tempat tidur pasien.

Terkait video asusila yang mengatasnamakan RS Sanjiwani Gianyar, nama baik rumah sakit sudah sangat tercoreng.

Ia lantas berkoordinasi dengan Dinas Inkom Gianyar untuk menelusuri kebenaran video asusila itu.

"Kami tegaskan, video itu tidak benar dilakukan di RS Sanjiwani. Kami bersama Inkom tengah menelusuri video tersebut.

Sebab ini tak hanya mencoreng nama baik Sanjiwani, tetapi juga Pemkab Gianyar, dan masyarakat Gianyar," tegas Ida.

Sementara itu, Kapolres Gianyar, AKBP Priyanto Priyo Hutomo terus mendalami beredarnya video tersebut.

"Kita masih dalami terkait video itu. Di mana lokasi dan siapa yang ada di dalam video," ungkap Priyanto, Jumat (26/4/2019).

Sampai saat ini, belum ada laporan atau aduan terkait beredarnya video tersebut.

"Kita juga belum lakukan pemeriksaan dan penyelidikan. Masih kita kumpulkan informasi-informasi terkait itu.

Belum ada laporan juga ke kita pihak yang dirugikan atau semacamnya," tegas AKBP Priyanto.

Satpam Aniaya Pasien

Sebelumnya insiden video viral yang terjadi di rumah sakit juga terjadi di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Dr Soeharto Heerdjan, Grogol, Jakarta Barat.

Dari video yang beredar tampak sejumlah oknum satpam melakukan penganiayaan kepada seorang pasien yang menderita gangguan jiwa.

Dilansir TribunWow.com dari tayangan YouTube Official iNews, Rabu (11/12/2019) oknum itu pun kini terancam dipecat.

Dari video yang beredar, tampak seorang pasien pria dengan kaus lengan panjang warna hijau dan memakai celana warna biru duduk di sebuah bangku.


Di sampingnya, tampak seorang oknum satpam yang memegangi lengan sang pasien.

Dari narasi yang beredar, disebutkan bahwa pasien tersebut diduga hendak kabur dari rumah sakit.

Satpam itu pun tampak berkomunikasi dengan seseorang melalui handy talkie (HT).

Dua orang pria kemudian datang menghampiri mereka, dengan mengenakan seragam satpam serta kemeja batik.

Begitu turun dari motor, mereka langsung melakukan penganiayaan terhadap sang pasien.

Pasien itu juga tampak dibentak, sebelum akhirnya ditarik dan diminta naik ke atas sepeda motor.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama RSJ DR Soeharto Heerdjan, Laurentius Panggabean buka suara.

Menurutnya, aksi oknum satpam itu hukumannya cukup berat.

"Saya pastikan itu memang berat hukumannya," ujarnya.

"Kalau itu menyangkut tentang HAM ya, hak asasi manusia, apalagi dia pasien."

Ia juga menambahkan bahwa tidak ada pasal-pasal yang bisa membela pelaku.

"Tidak ada pasal-pasal yang membenarkan itu, dibela enggak ada," ungkapnya.

Lebih lanjut, pihak rumah sakit juga mengatakan bahwa pasien itu tidak kabur karena tidak mampu membayar biaya perawatan.

Kabur Seusai Olahraga

Dikutip dari Kompas.com, pasien RSJ berinisial F (27) itu mencoba kabur setelah melakukan olahraga pagi.

F disebut mencoba kabur dengan memanjat pagar rumah sakit.

"Keliling olahraga lalu pasien kabur. Pas sudah dapat (tertangkap) tangannya tapi dia nyikut anggota."

"Langsung dia turun, langsung loncat ke arah jembatan layang Grogol," ujar seorang petugas keamanan yang tak mau disebut namanya di RSJ Soeharto, Jakarta Barat, Selasa (10/12/2019).

Sementara itu, Laurentius kemudian menjelaskan bahwa pasiden dikejar sampai keluar, namun penangkapannya tidak sesuai SOP.

"Kejar sampai keluar dari RS yang penting kan pasien aman," beber Lauren di RSJ, Grogol, Jakarta Barat, Selasa (10/12/2019).

"Lalu dikejar tapi mungkin pas ketangkap prosedur yang terjadi enggak sesuai dengan SOP kami."

"Karena dia lari kemudian dikejar, setelah didapat seolah-olah itu yang lari bukan pasien, seolah-olah kriminal, ini yang disayangkan," sambungnya.

Ia pun meminta maaf kepada semua pihak, termasuk keluarga pasien atas insiden ini.

"Memang kepada pihak keluarga sudah kami sudah meminta maaf, memang ini sesuatu yang di luar perkirakan kita."

"Dan untuk pihak keamanan akan meninjau kerja sama," ungkapnya.

Menurut Laurentius, pasien diduga kabur karena halusinasi.

"Pasien jiwa berbeda dengan pasien biasa, rasa ingin lari keluar mereka itu kerap terjadi, jadi kita kejar untuk hindari dia dari risiko terjatuh atau tertabrak," tegas Laurentius.