Warga Wonogiri Pilih Pakai Jimat untuk Tangkal Virus C0r0na

Emang bisa, ya?
Wabah virus corona baru atau COVID-19 semakin hari semakin meresahkan. Di Indonesia sendiri tercatat kurang lebih 1.790 orang dinyatakan positif terinfeksi COVID-19, 112 orang dinyatakan sembuh, dan 170 orang dinyatakan meninggal dunia berdasarkan data per tanggal 2 April 2020.
Untuk mencegah meluasnya virus, pemerintah Indonesia maupun WHO telah memberikan imbauan untuk senantiasa menjaga kebersihan, terutama kebersihan tangan dan badan.
Selain itu, ikuti juga aturan physical distancing atau menjaga jarak dengan orang lain paling tidak sejauh 1,5 meter serta sebisa mungkin untuk tetap berada di dalam rumah agar tidak terpapar virus corona.
Jika masyarakat mengikuti imbauan itu dengan baik dan benar, kemungkinan penyebaran virus corona tidak akan semakin luas.
Berkaitan dengan pencegahan penyebaran virus corona ini, ada cerita unik dari masyarakat yang ada di wilayah Wonogiri, Jawa Tengah. Pasalnya, masih ada kelompok masyarakat di Wonogiri yang menjadikan akik atau akar bahar sebagai jimat untuk tolak bala corona.
Seperti apa kisahnya? Melansir Suara.com, Jumat (3/4/2020), berikut ini ulasan singkatnya untuk kamu semua. Langsung aja kalau gitu kita Keepo bareng-bareng artikelnya.

1.Jimat penangkal virus corona

id.rbth.com
id.rbth.com
Pemerintah Kabupaten Wonogiri dengan tegas memperingatkan kepada para warga agar tidak mengandalkan benda-benda ataupun hal-hal yang berbau mistis untuk mencegah penyebaran virus corona.
Joko Sutopo selaku Bupati Wonogiri tidak menampik jika beberapa warganya memang masih memercayai kekuatan benda berbau mistis seperti jimat untuk tolak bala corona. Ia pun lantas menegaskan jika jimat tidak akan mampu menangkal atau menolak kehadiran virus corona.
Virus ini hanya dapat dicegah dengan menerapkan pola hidup bersih, sehat, dan melaksanakan seluruh imbauan pemerintah. Bukannya dengan mengandalkan jimat.

2.Perbanyak cuci tangan, bukannya merapal mantra

jateng.tribunnews.com
jateng.tribunnews.com
Selain itu, Jekek (panggilan akrab Joko Sutopo) menegaskan untuk lebih sering mencuci tangan menggunakan air yang mengalir serta sabun ketimbang merapal mantra.
Tak lupa ia pun mengimbau agar masyarakat Wonogiri tetap berada di dalam rumah ketimbang pergi ke tempat yang dianggap wingit.
“Jangan pula percaya informasi yang belum bisa diketahui kebenarannya seputar Covid-19. Contohnya informasi virus hanya bisa menginfeksi pada pukul 18.00 WIB sampai 06.00 WIB, karena siang virus mati akibat terkena sinar matahari. Itu menyesatkan. Persebaran virus itu tak mengenal waktu dan tempat, sehingga pancegahan mesti dilakukan setiap saat,” terang Bupati Jekek, Rabu (1/4/2020).

3.Warga resah karena perantau

www.solopos.com
www.solopos.com
Bupati Jekek pun sadar bahwa tindakan warganya itu merupakan salah satu bentuk keresahan dari banyaknya perantau yang memasuki wilayah Wonogiri. Akan tetapi, Jekek meminta agar warga tidak memandang perantau sebagai pembawa virus meskipun mereka berasal dari wilayah yang terpapar COVID-19. Sebab tidak ada jaminan bahwa orang yang sudah lama berdiam di Wonogiri bebas dari infeksi COVID-19.
Jekek menilai lebih baik masing-masing individu menjalankan prosedur pencegahan dengan baik. Ia juga meminta kepada para perantau yang pulang kampung untuk segera melapor ke ketua RT atau RW setempat.
Selanjutnya, para perantau diminta untuk memeriksakan dirinya ke puskesmas. Setelah itu, para perantau pun diwajibkan untuk mengisolasi diri selama 14 hari.
Nantinya, apabila dalam praktiknya ada perantau yang mengalami gangguan kesehatan, seperti batuk dan demam, mereka diharapkan untuk segera melapor ke puskesmas agar bisa ditangani lebih lanjut.
Jika gejala tak kunjung membaik, mereka pun akan dirujuk oleh petugas medis ke RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri sebagai RS lini kedua penanganan COVID-19.