Sempat Viral, Ini Kisah di Balik Nama Alhamdulillah Rejeki Hari Ini

Foto keluarga Alhamdulillah Rejeki Hari Ini, Senin (3/2/2020). [Julianto/Kontributor SuaraJogja.id]

Nama Alhamdulillah Rejeki Hari Ini sempat viral di media sosial setelah membuat netizen heboh. Siapa sangka untaian kalimat syukur tersebut merupakan nama unik seorang balita.
Seorang balita asal Ngampilan, Kota Yogyakarta diberi nama unik oleh orangtuanya Alhamdulillah Rejeki Hari Ini.
Dari penelusuran SuaraJogja.id, Alhamdulillah Rejeki Hari Ini ternyata adalah putera pertama dari pasangan Didit Saputro (39) dan Meidiana (35) warga Ngampilan, Kota Yogyakarta yang tinggal di Perumahan Bukit Asri Gunung sempu Kecamatan Kasihan Kabupaten Bantul.
Pemberian nama yang viral di media sosial karena cukup unik dan satu-satunya ada di Indonesia tersebut bukan tanpa alasan.
Kepada tim SuaraJogja.id, orangtua balita yang dipanggil Al tersebut memang nampak berbeda dari orang lain. Hal tersebut nampak terlihat ketika sampai di rumahnya yang berada di kawasan perumahan elit.
Bukan rumah gedongan yang berlantai marmer ataupun keramik mahal dengan desain modern, rumah dari kedua orangtua Al justru berbeda.
Rumah yang mereka tinggal adalah rumah dengan desain kuno jika dilihat tampak depan. Pintu yang terbuat dari Kayu Lawasan (lama) tanpa plitur dan juga dinding bata tanpa diplester ataupun dicat tampak dominan di antara barisan rumah elit. Di bagian depan rumah pun ada gazebo kecil yang juga terbuat dari kayu lawasan juga

Viral nama bayi unik di Jogja. (Twitter/@Merapi_news)
Viral nama bayi unik di Jogja. (Twitter/@Merapi_news)

Keluarga Alhamdulillah Rejeki Hari Ini pun tergolong cukup terkenal di komplek tersebut. Tak lain tentu saja lantaran nama nyentrik sang anak.
Sang Ayah, Didit menceritakan awal mula mengapa memberi nama yang sangat unik tersebut. Didit bertutur jika nama Alhamdulillah Rejeki Hari Ini merupakan manifestasi dari rasa bersyukurnya kepada Allah SWT.
Di mana sebelumnya, Didit mengaku pernah menjadi manusia yang tidak memiliki rasa syukur terhadap sang Pencipta.
Dulu, cerita Didit, dirinya adalah fotografer freelance yang bergelimang dengan harta. Penghasilan yang cukup besar ia peroleh dari fee fotografer corporate yang melayani perusahaan-perusahaan yang ingin membuat iklan ataupun dokumentasi untuk kepentingan publikasi perusahaan mereka.
"Nah saat itu, pikiran saya itu tidak pernah tenang. Di mana setiap saat saya selalu kepikiran apakah besok mendapat order yang lebih besar lagi dari sekarang," tuturnya.
Awal tahun 2008, dirinya yang berasal dari keluarga mampu pergi ke Jakarta untuk bekerja. Dalam pikirannya kala itu yang ada hanyalah mencari uang sebanyak-banyaknya
Dan tahun 2011, tibalah dia mendapatkan kesempatan menjadi manusia yang bergelimang dengan harta karena uangnya cukup banyak.
Titik nadir kehidupannya pun terjadi di tahun 2014. Sekitar bulan Juni dirinya diberi 'ganjaran' Yang Maha Kuasa sakit stroke.
Tangan dan kaki kirinya sulit untuk bergerak ketika diajak untuk beraktivitas, sehingga hal tersebut membuatnya kesulitan menjalankan profesinya sebagai seorang fotografer.
"Stroke yang saya alami itu ada di tahun kedua pernikahan saya. Coba bayangkan bagaimana rasanya,"ujarnya.
Di tengah kesulitan menjalankan profesinya sebagai fotografer karena sakit stroke tersebut, tiba-tiba ada pemuda asal Bali yang meminta untuk diajari secara privat tentang fotografi.
Kesepakatanpun dicapai di mana dirinya akan tinggal selama sepekan di Bali untuk mengajari fotografi kepada pemuda tersebut.
Saat itu, Didit mengaku mematok harga yang cukup besar yaitu sebesar Rp30 juta di luar akomodasi dan makan. Pada awal mematok harga tersebut, ia beranggapan jika pemuda asal Bali tersebut berasal dari Keluarga kaya dan mampu. Namun akhirnya ketika ia sampai ke Bali, barulah dirinya mengetahui keadaan sebenarnya keluarga tersebut
"Ternyata dia itu membayar saya dengan menggadaikan sertifikat tanah milik orangtuanya,"ceritanya.
Selama di Bali itulah ia mendapatkan ilmu tentang bersyukur di mana ia melihat dari keseharian pemuda yang ia ajari ilmu fotografi tersebut.
Hampir setiap hari, pagi siang ataupun sore pemuda tersebut selalu menyempatkan diri untuk menyisihkan sedikit makanannya untuk disajikan ke leluhur. Rupanya hal tersebut merupakan salah satu bentuk bersyukur.
"Karena penasaran saya ingin belajar, lantas diketemukan dengan Tetua Agama Hindu di sana dan dijelaskan,"kenangnya.
Dan yang justru membuatnya heran, di akhir penjelasan tersebut Tetua Agama Hindu berpesan kepada dirinya agar jangan murtad.
Saat itu juga ia dipertemukan dengan ustad di Bali karena ingin belajar tentang filosofi bersyukur tersebut. Dan selama belajar ilmu bersyukur itu pula ternyata penyakit strokenya bisa sembuh total tanpa diobati.
Meskipun sembuh total, rasa hampa tetap menghinggapi dirinya karena tidak kunjung diberi momongan
Berbagai upaya telah keduanya lakukan agar bisa segera diberi momongan. Hingga akhirnya, di tahun ketiga pernikahan mereka, sang istri putus asa dan mulai bersikap 'Luweh' alias cuek.
Tahun 2018 tepatnya bulan Oktober dirinya mendapat cobaan lagi. Di mana istrinya mendapat musibah karena kecelakaan setelah menabrak seekor anjing.
Tempurung kakinya divonis dokter pecah dan harus dioperasi untuk memulihkannya agar bisa segera berjalan. Namun setelah dua minggu operasi ternyata belum sembuh juga dan belum juga bisa berjalan.
"Sayapun pergi ke pengobatan tradisonal china yang mahal namun belum juga bisa jalan. Oleh sinse di situ disarankan ke pijat tradisional di Muntilan," tambahnya.
Di kali kedua istrinya terapi di tukang pijat tersebut, ia justru diberitahu jika istrinya sulit memiliki bayi karena ada beberapa syaraf yang kejepit.
Karena itu pula, istrinya langsung dipijit dan diterapi agar bisa memiliki anak. Dan benar saja, ternyata selang sebulan kemudian istrinya bisa hamil.
Namun kehamilan anaknya tersebut baru diketahui di umur kandungan 2,5 bulan. Yaitu ketika keduanya mudik ke rumah orangtuanya di Palembang
Bahkan untuk meyakinkan apakah istrinya hamil atau tidak, ia sampai mengajak istrinya melakoni tes USG sebanyak dua kali.
"Istri saya baru hamil di usia pernikahan kami masuk ke tahun ke 7. Nah ketika hamil sekitar usia 6 bulan itulah saya ingin memberi nama Rejeki Hari Ini. Terus karena saat itu berkembang tren memberi anak dengan nama kebarat-baratan dan ke arab-araban, sayapun ingin ikutan memberi nama anak saya dengan bahasa Arab. Akhirnya munculah ide menambahi Alhamdulillah, jadilah Alhamdulillah Rejeki Hari Ini," paparnya.
Itulah kisah di balik nama Alhamdulillah Rejeki Hari Ini yang viral di media sosial. (Kontributor SuaraJogja.id/ Julianto).