Karena Allah Adalah Sutradara Terbaik Dalam Hidup, Semua Sekenario-Nya Adalah Yang Terindah


Bismillahirrahmanirrahim
Hidup ini sesungguhnya tak lain hanyalah seperti sebuah drama atau sandiwara. Setiap orang mempunyai perannya masing-masing. Setiap dari peran itu mempunyai konskuensi tersendiri. Namun terkadang dalam waktu tertentu jika digambarkan seperti kehidupan nyata, seolah kita berada di bangku penonton menyaksikan drama tersebut.
Kita bisa menilai, memprotes, dan mengkiritik atas perbuatan dari lakon tertentu dan alur cerita. Sementara ketika kita menjadi dari lakon itu sendiri. Kita hanya menjalankan peran yang ada, tanpa bisa menilai, mengkritik dan memprotes.
Tuhan telah menetapkan peran terhadap kita masing-masing. Tuhan adalah Sang Pembuat “Skenario” sekaligus “Sutradara” dalam “cerita kehidupan”. Dia menugaskan kita untuk menjalani peran dengan proporsional dan profesional. Artinya bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini tidak ada yang bersifat kebetulan, karena semua telah diatur dengan sistem yang sempurna.
Jika kita menyandarkan segala sesuatu yang terjadi di dunia ini hanya kepada-Nya, maka saya yakin semua persoalan itu pun akan dapat kita atasi. Karena Tuhan yang menghadirkan “cerita” dan tentu saja Dia telah pula mengetahui akhir jalan “cerita” dari masing-masing peran yang sedang kita lakoni di dunia ini.
Allah SWT mempunyai kuasa atas adegan-adegan dalam setiap episode kehidupan yang dijalani hamba-Nya. Setiap lakon telah mendapat perannya masing-masing dari Allah. Bagai sebuah mata rantai kehidupan. Dalam drama manusia lakon tidak mempunyai pilihan. Ia sudah terkunci oleh plot cerita. Terpaku pada skript naskah.
Akan tetapi dalam skenario yang diberikan oleh Allah mempunyai kebebasan. Lakon diberi kewenangan dalam menentukan perannya. Bahkan tuk menjadikan dirinya pemeran utama pun, diperbolehkan. Allah SWT hanya memberikan garis besar alur cerita dan konskuensi setiap peran yang dipilih dan dimainkannya.
Seringkali kita merasa tidak puas dengan suatu keadaan dalam episode hidup ini. Kita mempertanyakan keadilan Sang Illahi. Bahkan kita sering mengira bahwasanya Allah SWT, Dzat Yang Maha Sempurna dan Adil, berlaku tidak adil kepada kita. Allah SWT telah mencelakakan atau menyia-nyiakan kita. padahal jika kita mau berhusnudzhon dan bersabar Allah berfirman.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (Q.S Al Baqarah [2] : 216).
Allah lebih tau mana yang terbaik untuk hambanya. Mungkin peran ini lebih baik dilakukan oleh orang tersebut, dan peran lainnya lebih baik ketika kita yang melakukannya. Semua telah Allah beri porsi masing-masing sesuai takaran. Sebab yang menciptakan tentunya akan lebih mengetahui.
Allah adalah sutradara terbaik untuk kehidupan mahklukNya.
Yang sudah menuliskan skenario mahklukNya jauh sebelum manusia dilahirkan.
Allah pun sudah mengatur dan mengukur setiap ujian mahklukNya, bahwasanya setiap ujian sudah terukur jawabannya pula.
Ibarat hidup ini skenario Allah, maka kita adalah pemain – pemain skenario Allah tersebut.
Mau berperan antagonis ataukah berperan protagonis itu tak lepas pula karena skenario Allah dan usaha manusia sendiri.
Ada yang Allah ceritakan dengan harta yang berlimpah dan hidup dengan popularitas, ada yang Allah ceritakan dengan ekonomi yang secukupnya.
Bolehlah para pemain skenario Allah ini berencana dan merencanakan, namum sekali lagi sutradara lah yang menentukan, karena hanya Allah yang Maha Mengetahui mana yang terbaik utk mahkluknya.
Kita hanya perlu berdoa dan berusaha agar apa yang menjadi keinginan kita sesuai dengan apa yang Allah skenariokan.