Almarhum Gus Sholah Dikenal Sebagai Penyatu dan Penyejuk




Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Arsul Sani mengenang banyak hal positif dari almarhum KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah. Dia mengenal Gus Sholah sebagai sosol penyatu dan penyejuk.

"Pada diri Gus Sholah itu melekat banyak hal yang positif," ujar Arsul usai melepas jenazah Gus Sholah ke Jawa Timur, di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin, 3 Februari 2020

Arsul menyampaikan, ketika banyak pihak berbeda pandangan, Gus Sholah menyatukan, juga mendamaikan mereka. Gus Sholah wafat di Rumah Sakit (RS) Harapan Kita Jakarta Minggu, 2 Februari 2020.


"Ketika banyak kelompok berbeda pandangan, pendapat, beliau berperan sebagai penyejuk. Ketika situasi cukup panas, satu kelompok itu menyampaikan satu sikap, pandangan yang katakanlah keras, maka beliau mencoba menyejukkannya," ujar Arsul.
Arsul mengemukakan, sekali pun begitu, Gus Sholah tetap menjaga sikap kritis sehingga tindakan korektif bisa dilakukan. Arsul mencontohkan, sikap kritis Gus Sholah ke kakaknya sendiri, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) saat Gus Dur menjadi presiden keempat pada 1999 hingga 2001.

"Beliau tetap kritis. Kepada siapa pun. Bahkan dulu ketika Gus Dur menjadi presiden pun beliau sering menyampaikan pandangan-pandangan kritisnya. Ini menunjukkan bahwa beliau tokoh yang tidak sektarian," ujar Arsul.


Gus Sholah dikenal sebagai seorang aktivis, ulama, politikus, dan tokoh pembela hak asasi manusia (HAM) di Indonesia.

Gus Sholah pernah menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada masa awal reformasi 1998, dan juga pernah menjabat sebagai wakil Ketua Komnas HAM.

Bersama kandidat presiden Wiranto, Gus Sholah mencalonkan diri sebagai kandidat wakil presiden pada Pemilu Presiden 2004, namun kalah di babak pertama karena menempati peringkat ketiga.